Sekedar menghembuskan optimisme bagi yang peduli pada alam atau kehidupan manusia di masa depan. Diambil dari buku The Hidden Connections karya Fritjof Capra mengenai bagaimana bioteknologi dihasilkan dengan belajar dari alam bukan hanya dengan mengeksploitasi alam sebagai sumber bahan mentah.<!--more-->
....Perkembangan bioteknologi baru tersebut akan menjadi suatu tantangan intelektual yang hebat sekali, karena kita masih belum memahami bagaimana alam selama milyaran tahun mengembangkan 'teknologi' yang jauh lebih unggul daripada rancangan manusia. Bagaimana mussel (sejenis molusca) menghasilkan lem yang menempel pada benda apapun di air? Bagaimana laba-laba memintal benang sutra yang per onsnya lima kali lebih kuat daripada baja? Bagaimana abalone (sejenis molusca yang dapat dimakan, kelas gastropoda) menumbuhkan cangkang yang dua kali lebih kuat daripada keramik teknologi tinggi kita? Bagaimana makhluk-makhluk itu menghasilkan materi ajaib dalam air, pada suhu kamar, tanpa suara, dan tanpa limbah beracun?
Keren ya? Kenapa saya tidak menyadari hal-hal seperti ini? Bayangkan saja teknologi yang susah-susah kita buat dengan sumber daya dan energi yang besar hingga menyebabkan kerusakan lingkungan masih kalah dengan teknologi yang dibuat oleh ilmuwan2 alam ini. Mungkin mereka, ketika melihat pabrik2 yang dibuat manusia, hanya geleng2 dan nyengir2 sambil bilang "gitu aja koq repot, ga mutu lagi". Oke, kita lanjutkan melihat sejauh mana progressnya sekarang:
....Para ilmuwan di Universitas Washington telah meneliti struktur molekuler dan proses perakitan lapisan dalam yang halus pada cangkang abalone, yang menunjukkan pola-pola warna yang melingkar yang halus dan keras sekali. Mereka dapat meniru proses perakitannya pada suhu kamar dan menciptakan suatu materi keras dan transparant yang bisa menjadi pelapis ideal bagi kaca depan mobil listrik ultraringan. Para peneliti di Jerman telah meniru permukaan mikro daun teratai yang berbenjol-benjol dan bisa membersihkan diri sendiri untuk menghasilkan cat bangunan yang bisa melakukan hal yang sama. Para ahli biologi laut dan biokimia telah menghabiskan bertahun-tahun menganalisis proses kimia unik yang digunakan mussel biru untuk mensekresikan suatu zat perekat yang bisa menempel dalam air. Sekarang mereka mencari potensi penggunaan medis yang memungkinkan dokter bedah merekatkan ligamen dan jaringan dalam lingkungan basah. Para ahli fisika telah bekerjasama dengan ahli-ahli biokimia di beberapa laboratorium untuk memeriksa struktur dan proses kompleks fotosintesis, dan mereka berharap agar pada akhirnya bisa membuat tiruan fotosintesis di sel surya baru.
Hal ini tetap saja akan memakan biaya besar karena harga berbagai barang di laboratorium sangat mahal. Tapi di Indonesia biasanya ada sesuatu yang traditional tapi masih lebih baik daripada yang modern. Misalnya saya pikir atap dari ilalang seperti di Bali masih lebih baik daripada tanah liat. Cuz' tanah liat perlu pembakaran untuk membentuknya menjadi genteng. Sedangkan ilalang jika tidak dipakai mesti dibakar jika tidak ingin tumbuh dimana-mana. Jadi daripada bakar-membakar mending buat sesuatu tanpa karbonisasi.
Bookmark/Search this post with:
Post new comment