HIKAYAT DARI BINTAN

BERANGKAT !!!

Jumat siang ini akan menjadi waktu yang bersejarah bagi saya. Rencana untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bintan, Kepulauan Riau akan segera menjadi kenyataan dalam beberapa menit kedepan. Dan inilah hari Jumat terakhir saya di kota Yogyakarta karena sore ini saya dan rekan-rekan KKN saya akan berangkat menuju Bintan sana. Ah, Pulau Bintan, akhirnya lima bulan persiapan itu selesai juga teman. Dan pukul satu siang ini di parkiran jurusan Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), saya masih menanti kedatangan rekan-rekan saya.

Saya teringat ketika pertama kali menginjakan kaki di kampus perikanan ini hampir empat tahun yang lalu. Ah, masa itu telah lewat dan berlalu. Seperti senandung nasyid dari Suara Persaudaraan, “Sungguh Indah, terlalu manis, untuk dilupakan, sungguh mesra, meski beriring ketegangan”. Saat-saat menjadi mahasiswa baru masih terngiang jelas di pikiran saya. Hampir empat tahun semuanya sudah berlalu. Ah, siapa sangka kalau sore ini, saya dan rekan-rekan saya akan menyeberangi Pulau Jawa untuk kemudian singgah dan berkarya selama dua bulan di Pulau Bintan. Ah, nama pulau itu pun baru saya dengar Januari silam ketika akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok KKN Bintan. Masih asing terdengar di telinga saya.

Man, saya ikutan deh KKN di Bintan”, akhirnya saya memutuskan untuk KKN di Bintan sana. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan masukan, saya pun harus segera memutuskan untuk bergabung atau tidak. Firman, si ketua kelompok atau kita menyebutnya koordinator mahasiswa tingkat unit (kormanit) yang juga putra daerah Bintan pun dengan senang hati menerima keputusan saya itu.

Yah, gak apa-apa ‘Nji. Kita masih punya waktu kurang lebih lima bulan untuk mempersiapkan semuanya. Mohon kerja samanya yah ‘Nji”, jawab Firman saat itu juga ketika kebulatan tekad untuk bergabung di kelompok KKN Bintan saya utarakan. Bukan tanpa alasan saya memutuskan untuk bergabung. Setidaknya saya memiliki tiga alasan kenapa akhirnya saya bergabung. Pertama, ini adalah kesempatan bagi saya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya di daerah yang baru, di daerah sumatera yang masih teramat asing bagi saya. Kedua, saya ingin benar-benar rehat dan berhenti sejenak dari kepenatan di kampus. Mencari pengalaman baru dengan teman-teman baru pula. Istirahat dari kegiatan akademik dan amanah organisasi. Saya hanya minta waktu dua bulan untuk mencoba memberikan manfaat di tengah-tengah masyarakat langsung. Ketiga, Firman si kormanit ini juga memiliki jaringan dengan pemerintahan di daerah sana. Yah, ayahnya adalah Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, cukuplah itu menjadi sedikit jaminan. Ketiga alasan inilah yang akhirnya menguatkan diri saya untuk kuliah dan bekerja secara nyata di Pulau Bintan sana.

Dan siang ini, di parkiran jurusan perikanan, datanglah satu per satu rekan KKN Bintan saya. Beberapa orang memang berencana utuk berkumpul di jurusan perikanan UGM terlebih dahulu, untuk kemudian menuju Terminal Jombor dan berangkat dengan bis ekonomi menuju Jakarta. Perjalanan yang pastinya akan melelahkan teman. Kita akan berangkat bersama menuju Pulau Bintan. Ah, sebuah perjalanan yang pastinya akan menyenangkan teman. Bersama-sama dengan dua puluh empat teman yang lain kita akan memulai perjalanan dari Terminal Jombor, Yogyakarta, kemudian singgah sementara di rumah salah seorang anggota kelompok KKN Bintan di Cinere, Jakarta, Neni namanya, lalu ke Pelabuhan Tanjung Priuk dan kemudian berlabuh di Pulau Bintan sana. Ah, perjalanan yang pastinya akan mengesankan bagi saya. Dan jika ini semua terjadi, ini akan menjadi perjalanan terjauh dalam sejarah hidup saya, setelah perjalanan ke Pulau Bali dan Kepulauan Seribu tepat setahun yang lalu.

Saya, Tama, Yanti, Dito, Yoga, Akbar HI, Anjar, Adiba, Afi, Taufik dan Akbar dengan truk pengangkut barangnya akhirnya telah siap berangkat menuju tempat transit pertama, Terminal Jombor. Tapi Pak Probo, sang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), sedang ada tamu di ruangannya, bagaimana ini teman. Ah, mau tidak mau kita pun terpaksa masuk ke ruanganya dan berpamitan memohon doa restu. Dan ternyata saya mengenal tamu bapaknya, beliau adalah dosen Biologi Universitas Atmajaya Yogyakarta yang pernah bersama saya menjadi nara sumber pada Seminar Lingkungan di SMP Pangudi Luhur I Klaten, Pak Boy namanya.

Ah, Panji, semoga apa yang kau cita-citakan dan kau impikan dapat menjadi kenyataan. Seperti beberapa pesan singkat dari teman-teman yang masuk dalam inbox handphone saya menjelang pemberangkatan siang ini.

Asw. Nji.. Slmt brgkt KKN.. Slmt bkontribusi nyata bg masyarakat!

Prima Psikologi’05

Asw. Bos, gw dapat salam lo dr Prima.. curang lo cm nelp Prima! Berangkat kkn jam brapa? Hati2.. jangan bikin malu dgn mabuk laut yo!

Rezki Teknik Mesin’04

Asslm. Slamat KKN. Smg slamat smpe tujuwn. Smg KKNny lancar. Smg dberikan kekuatan iman. Smg dberikan kesehatn dan terakhir, semoga msh peduli amanah di kampus

Chandra Agribisnis’05

Dan bismillah, tepat pukul 14.30 WIB, truk KKN Bintan bergerak meninggalkan parkiran jurusan perikanan menuju Terminal Jombor. BERANGKAT !!!

Mastori

Dalam sebuah perjalanan, menyusuri pantai utara.” Ah, senandung itu begitu mengharu birukan hati saya setiap kali saya melakukan perjalanan jauh. Dan kali ini, untuk yang kesekian kalinya, hati saya pun bersenandung ria melantukan senandung ini. Ah, dalam perjalanan menuju Terminal Jombor inilah saya, Tama, Akbar HI, Anjar, Yoga dan Taufik berbincang penuh canda dan tawa. Tidak ada satu pun dari kita yang akan menyangka kalau perjalanan ini akan menjadi kenyataan.

Akhirnya, jadi juga kita berangkat KKN!”, seru Anjar setengah tidak percaya.

Aku bakal Jogja-Sick nih selama di Bintan!”, kata Taufik tidak kalah serunya.

Dan Terminal Jombor pun akhirnya menjadi tempat transit kita yang pertama. Tepat pukul tiga akhirnya kita tiba disana. Sudah ada Wahyu, Sari, Bayu, Neni dan Mastori disana. Ah, Mastori, dia adalah anggota kelompok KKN Bintan yang paling menjadi sorotan kita semua. Bisa dikatakan, dia adalah logo dari KKN Bintan kita kali ini. Dan menjelang keberangkatannya ke Bintan kali ini, dia pun bercerita panjang lebar kepada saya tentang pengalaman serunya beberapa jam yang lalu. Ah, Mastori, dia kehilangan dompet beberapa jam menjelang keberangkatan. Kalau kata si Taufik kepada Mastori, “Tenang ‘Mas, setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Dan semoga dengan cobaan ini, KKN kita di Bintan nanti akan dimudahkan!”

Saya pun mengamini dalam hati. Bukankah di waktu Ashar itu, para malaikat selalu mendengarkan doa para hamba Allah. Dan doa dari Taufik, Mastori dan saya, semoga saja didengar oleh malaikat-malaikat yang menaungi langit Terminal Jombor saat itu. Semoga saja Allah mengganti yang hilang itu dengan yang lebih baik. Semoga saja cobaan yang diterima Mastori menjadi penebus segala kesulitan yang nanti akan dihadapi kelompok KKN Bintan ini. Semoga ini adalah yang terbaik untuk Mastori, barangkali saja ini adalah tahapan yang harus dilalui oleh seorang Mastori untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Ah, Mastori. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia pun harus berpikir ekstra agar dia bisa tetap berangkat KKN, ketemu atau tidak dompetnya nanti. Dan yang menarik, setelah menyelesaikan urusan dompetnya itu, sesampainya Mastori di Terminal Jombor setelah diantar teman kos-nya (pantas saja, ketika saya ke kos-nya, dia sudah tidak ada), dia malah bertemu dengan seorang bapak yang juga baru saja kehilangan dompetnya, Pak Mulyanto namanya. Ah, sesama orang yang baru kehilangan dompet akhirnya bertemu. Entah apa yang dirasakan oleh kedua orang yang memiliki kesamaan nasib itu.

Dan inilah hebatnya seorang Mastori. Putra Cirebon dari kampung nelayan ini memang memiliki hati yang teramat mulia teman. Dia dengan senang hati menawarkan bantuan kepada Pak Mulyanto tersebut.

Maaf ‘Pak, kira-kira berapa uang yang bapak butuhkan untuk pulang ke rumah bapak?”, tanya Mastori.

Si Bapak yang berasal dari Semarang dan ingin menuju Boyolali itu hanya butuh lima belas ribu rupiah saja katanya. Dan Mastori memberi uang tiga puluh ribu yang ada pada bapaknya begitu saja. Memang sengaja dilebihkan oleh Mastori. Mengutip perkataan si Ikal, tahukah kawan, kalau uang tiga puluh ribu yang dimiliki Mastori adalah uang yang baru saja beliau pinjam dari temannya sesaat sebelum berangkat ke Terminal Jombor. Dan sekarang uang itu sudah beralih tangan ke Pak Mulyanto. Ah, luar biasa baiknya teman saya ini. Dan saya sama sekali tidak heran kalau seorang Mastori akan melakukan hal ini, karena Mastori yang saya kenal memang seperti ini. Dia tidak pernah berpikir panjang ketika menolong orang. Dia tidak pernah memiliki prasangka kepada seseorang yang akan ditolongnya. Dialah Mastori, teman seperjuangan saya di jurusan perikanan yang tidak ada duanya. Unik dan menarik.

Dan Allah memang Maha Adil. Kelanjutan cerita dari Mastori hampir seperti di novel-novel dan sinetron-sinetron. Pak Mulyanto bercerita kalau beliau memiliki tiga anak putri, dan salah satunya sedang menempuh kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Bapaknya bahkan menawarkan kepada Mastori, kalau singgah di Semarang, berkunjunglah sejenak di rumahnya. Ah, Mastori. Dia telah memiliki satu kunci menuju Semarang. Dan Allah memang Maha Pemurah, tiga puluh ribu rupiah yang Mastori investasikan untuk menolong Pak Mulyanto langsung dilipat gandakan oleh Allah. Mastori tidak akan menyangka kalau kebaikannya telah dibayar tunai dengan tiket menuju Semarang. Ah, saya yakin ketika menolong si bapak, Mastori tidak pernah berpikir kalau si bapak itu punya anak putri atau tidak. Ah, Mastori memang terlampau polos. Saya dan Taufik yang mendengar ceritanya setelah shalat Ashar di mushola Terminal Jombor pun hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil.

Dan bagi diri saya pribadi, karena selama dua bulan KKN nanti saya berada dalam satu sub unit dengan Mastori, di Kelurahan Kawal sana, tentunya akan banyak cerita menarik dari si Mastori. Ah, Mastori, Mastori, nama itu akan menjadi fenomena tersendiri dalam KKN Bintan kali ini.

Dalam Sebuah Perjalanan

Akhirnya tepat pukul 16.15 WIB, bis yang dinanti saya dan teman-teman KKN Bintan berangkat meninggalkan Terminal Jombor. Ramai sekali teman bis yang kita tumpangi ini. Mirip seperti kegiatan transmigrasi bedol desa. Dengan bawaan yang tidak sedikit, dengan total 25 orang peserta minus Firman si kormanit yang sudah berangkat terlebih dahulu karena harus mempersiapkan beberapa hal, perjalanan KKN kali ini benar-benar beda teman. Tidak seperti dengan KKN-KKN lainnya di seputaran Yogyakarta, kita telah mengambil resiko untuk berkelana lebih jauh, tidak kepalang tanggung bahkan, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Ah, perjalanan yang akan selalu terngiang nantinya ketika semuanya nanti telah usai dan berlalu. Perjalanan yang menakjubkan teman.

Lima baris terdepan di bis kita miliki bersama. Dengan dua kursi di sebelah kiri dan tiga kursi di sebelah kanan, kita memang memiliki jatah lima baris terdepan untuk 25 orang penantang tergigih yang tersisa. Baris pertama, ada Yoga, Akbar, Icak, Wahyu dan Bagus. Baris kedua ada Andri, Tama, Adiba, Fairus dan Erni. Baris ketiga ada Akbar HI, saya, Neni, Erhan dan Yanti. Baris keempat ada Desi, Fery, Sari, Ida, Afi. Baris kelima ada Bayu, Dito, Anjar, Taufik dan Mastori. Tepat 25 orang teman. Dengan masing-masing gaya dan karakter yang berbeda-beda, perjalanan menuju ibukota Jakarta ini menjadi sebuah perjalanan yang ceria.

Jalan Raya Magelang pun dilewati dengan berbagai rasa oleh kita semua. Ah, saya mungkin orang yang paling senang dengan perjalanan penuh nostalgia ini. Ketika singgah di Terminal Jombor, saya mengingat saat bersama-sama teman Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UGM pada saat mengikuti Daurah Militansi tiga tahun yang lalu. Dan Jalan Raya Magelang seperti membentangkan sejuta kenangan dalam hidup saya. Sudah berkali-kali saya melintasi jalan yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang ini. Saat bersama teman-teman Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP), saat bersama teman-teman Partai Bunderan UGM, saat bersama teman-teman Keluarga Mahasiswa Ilmu Perikanan (KMIP), saat bersama teman-teman Kelompok Studi Fakultas (KSF) Pertanian, Klinik Agro Mina Bahari (KAB), saat bersama teman-teman Kelompok Studi (KS) se-UGM dan saat bersama teman-teman KKN Bintan kali ini.

Ah, saya menikmati perjalanan yang begitu mengharu birukan hati ini teman. Perjalanan yang juga cukup menghibur bagi saya, ketika Pak Supir menyetel DVD lagu-lagu Koes Ploes yang telah di gubah. Ah, lucu sekali teman. Belum lagi ketika kita singgah di Terminal Drs. Prajitno, Muntilan dan Terminal Magelang Kota. Ramai sekali teman. Bis ekonomi ini semakin ramai dengan riuh rendah suara pedagang dan pengamen jalanan. Semuanya mengadu nasib dalam bis ekonomi ini. Mencari sedikit rezeki demi sesuap nasi. Ah, bis ekonomi telah menjadi sumber pencaharian sendiri bagi mereka, para pedagang dan pengamen. Dan bagi kita, bis ekonomi ini akan menjadi sarana transportasi yang akan mengantarkan mimpi kita dari Yogyakarta menuju Jakarta terlebih dahulu untuk kemudian menyebrangi lautan menuju Bintan.

Dan inilah pertama kalinya saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta dengan bis ekonomi. Ah, selalu ada yang pertama memang. Dan sial, di tengah perjalanan, handphone saya pun mati kehabisan baterai. Saya pun memilih untuk tidur sejenak dengan ditemani oleh musik dangdut yang kini menjadi teman sejati Pak Supir bis ekonomi kita.

Melintasi Purworejo lalu Purwokerto, kita pun singgah kembali untuk makan malam dan menunaikan ibadah shalat Maghrib dan Isya pada pukul 21.30 WIB di daerah Karanganyar, Kebumen. Saya pun langsung menuju mushola untuk kemudian menjamak shalat Maghrib dan Isya bersama Andri, Anjar, Akbar HI dan beberapa penumpang yang lain. Tak lupa saya mengisi ulang baterai handphone saya untuk kemudian saya mendapatkan beberapa pesan dari teman saya. Ternyata Ramadhan tinggal dua bulan lagi teman.

Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban, wa balighna ramadhan.. Teman2, sambut kedatangan ramadhan (2 bulan lg) skrg dah 1 rajab. Semoga kita b’temu ramadhan..

Rezki Teknik Mesin’04

Ada pula berita gembira yang juga harus dipertanggungjawabkan dari kampus tercinta. Ah, tiga orang menginfokan hal yang sama teman. Dan kali ini, saya pun hanya bisa membantu lewat doa teman.

Ketua Bajak Tani Akh Ichsan dari Keluarga Mahasiswa Muslim Pertanian (KMMP). Mohon dukungan seluruh kader dan minta doanya. Intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu). Muhammad ayat 7. Ksbran adl sbuah napas pnjg, tdk tbatas. Nmun, realitany, sabar bbatas pd ilmu qt. Shbt, ksbrn bknlh pnntian mnnunggu dtgny cita2, tp ksbrn adl kerj keras dan ktegaran. Ishbiru!!!

Hari KMMP’05

Asw. Info terbaru. Ketu Panitia Ospek Bajak Tani. M. Ihsan R. Tlng doakan dan beri semangat- jzk

Wahyu KMMP’05

asw. Astaghfirullah.. alhamdulillah.. info tbaru. Ketua Panitia Bajak Tani diamanahkan k qt. Mhn doa, dukungan dan smangat untk M. Ihsan BP’06 dan tmn2 disini. Jzklh. Was

Anis KMMP’04

Berita-berita yang menggembirakan itu pun seperti menjadi bumbu pelengkap pada saat saya makan malam di Warung Lestari yang ada di lokasi pemberhentian sementara ini. Juga menjadi pengantar tidur saya ketika bis ekonomi ini melanjutkan perjalanan panjangnya. Hari sudah semakin larut dan malam. Saya dan 24 orang teman-teman saya pun tertidur lelap dalam perjalanan menuju Jakarta ini. Dan ketika saya terbangun tepat ketika waktu Subuh, saya pun shalat di bis untuk kemudian memutuskan pulang terlebih dahulu ke rumah. Kembali ke tanah air kedua saya, tempat saya sekolah dan dibesarkan, Jakarta.

Kembali ke Jakarta

Dan saya tidak akan menyangka akan kembali ke tanah air kedua saya ini. Jakarta memang telah menjadi tanah air kedua saya setelah Kuningan, Jawa Barat, tanah kelahiran saya. Jakarta telah menjadi tempat saya dibesarkan dan bersekolah. Ah, memang saya bukan asli Jakarta, tapi belasan tahun hidup di Jakarta telah membentuk karakter saya sebagai orang Jakarta. Dan saya pun bangga menjadi orang Jakarta, seperti bangganya saya dengan Kuningan dan Yogyakarta yang telah menjadi tanah air ketiga saya. Ah, akhirnya saya kembali ke Jakarta teman.

Dan Jakarta kali ini tidaklah jauh berbeda teman. Saya, Fery, Akbar dan Tama memutuskan untuk turun di Bekasi Barat, tidak ikut transit bersama teman-teman KKN Bintan yang lain di rumah Neni. Tama ikut Akbar untuk singgah di rumahnya Akbar. Fery memang tinggal di Bekasi dan saya sendiri akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi jauh ke Pulau Bintan sana. Ah, Jakarta pagi hari memang masih terasa tenang dan sepi. Dan di sini, di dekat Metropolitan Mall, Bekasi, telah berdiri banyak mall yang lain. Ah, saya tidak hafal nama-namanya. Luar biasa memang proses modernisasi itu terjadi. Semuanya berkaca pada barat. Pembangunan fisik yang jor-joran. Budaya konsumtif yang semakin menjadi-jadi dengan banyaknya mall. Dan tentunya, semua telah merubah gaya hidup dan cara berpikir banyak orang, baik tua, muda maupun anak-anak. Ah, beruntung saya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta.

Dan saya teringat ketika saya masih kecil dan baru pulang mudik dari Kuningan. Kita turun di lokasi yang sama, Bekasi Barat. Dan kali ini pun saya mengulanginya kembali. Tapi kali ini sendiri, tidak bersama ayah, ibu dan adik saya, Fajar yang telah lama meninggal. Kali ini saya sendiri dan mencoba menikmati kesendirian kali ini. Ah, waktu yang tepat untuk merenung teman. Dua puluh dua tahun sudah saya diberi kesempatan hidup oleh Allah. Entah kapan hidup ini akan berakhir. Ah, saya harus mempersiapkan bekal akhirat juga teman. Tidak hanya urusan dunia yang harus saya selesaikan, saya pun mencoba untuk menyeimbangkan antara akhirat dan dunia. Ah, saya teringat almarhum adik saya, Fajar Arohman, yang berpulang pada usia teramat dini, hanya 17 tahun beliau hidup di dunia.

Fajar Arohman. Dialah adik pertama saya. Sahabat dan lawan terbaik saya ketika bermain bola, bulu tangkis dan catur. Ah, dia begitu tangguh teman. Kita seimbang dan saling mengalahkan. Saya teramat bangga memiliki adik seperti dia. Dan janjinya untuk menyusul saya kuliah di Yogyakarta saat itu akhirnya hanya menjadi mimpi. Ketika kelas tiga SMA, beliau menderita penyakit Guillein-barre Syndrome atau GBS. Penyakit yang diderita selama tiga bulan lamanya di ICU Rumah Sakit Islam Jakarta akhirnya mengakhiri hidupnya. Jujur. Jakarta saya berduka kala itu. 8 Januari 2006 menjadi hari kepergiannya. Ah, saya telah kehilangan Jakarta saat itu. Tanah air kedua itu telah mati dan pergi. Sama seperti ketika kakek saya meninggal 8 Januari 2005 di Kuningan. Tanah air pertama saya pun telah mati. Ah, semoga Yogyakarta saya pun tidak pergi dan mati dengan tiadanya orang-orang yang saya cintai karena Allah. Ah, kematian, siapa yang tahu kapan itu akan terjadi?

Dan mikrolet bernomor 26 itu pun mengantarkan saya pulang dari Metropolitan Mall hingga Pangkalan Jati. Menyusuri Kali Malang yang terbentang di sebelah kiri jalan raya, saya seperti menyusuri kembali jutaan kenangan yang pernah saya lalu setiap saya melalui jalan ini. Ah, apakah saya terlalu melankolis? Saya pun tidak bisa menjawabnya teman. Perjalanan itu benar-benar menenangkan saya. Hati saya gerimis. Ah, sebelum akhirnya saya pergi jauh ke Pulau Bintan sana, saya harus berpamitan kepada ayah dan ibu saya, juga kelima adik saya. Saya memang anak pertama dari tujuh bersaudara. Masih ada kelima adik saya yang lain setelah Fajar Arohman. Masih ada Agung Arohman, Gusti Arohman, Sri Endah Lestari, Bangkit Arohman dan Taufik Arohman. Ah, saya pun akan bersua dengan keramaian di rumah saya yang terkadang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Ah, Jakarta saya memang kadang juga berbeda teman. Tetapi saya menikmatinya.

Dan sesampainya di Pangkalan, setelah membayar empat ribu rupiah, saya memutuskan untuk berjalan saja menuju rumah saya. Ah, hanya sekitar lima belas menit waktu yang dibutuhkan. Dan memang sengaja saya memilih berjalan. Mengenang kembali perjalanan. Ah, Jakarta memang begitu berkesan bagi saya. TK saya di sana. Enam tahun sekolah dasar pun saya habiskan di Jakarta. Tiga tahun sekolah menengah pertama dan tiga tahun sekolah menengah atas saya masih di Jakarta. Maka wajar jikalau Jakarta begitu memberikan kesan bagi saya. Walaupun Jakarta telah mati 8 Januari 2006 silam, saya masih tetap mencintainya.

Dan alhamdulillah, sesampainya saya di rumah, saya masih melihat ayah, ibu dan adik-adik saya yang sehat wal afiat. Saya masih merasakan kehangatan keluarga. Ada berita senang dan juga berita duka. Ah, adik saya Bangkit tidak lulus seleksi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri tahap pertama. Sebagai kakak, jujur saya kecewa, dan memang tidak ada yang perlu disalahkan teman. Masih ada seleksi tahap kedua, kita berharap dan berdoa saja di sana. Dan saya pun masih dapat menikmati kenikmatan masakan ibu saya. Ah, saya memang sengaja pulang karena dua bulan ke depan saya pasti akan merindukan masakan beliau. Jakarta sabtu ini memang penuh cinta teman.

Dan beberapa jam menjelang keberangkatan saya ke Pelabuhan Tanjung Priuk, saya masih berada di depan laptop untuk bercerita dan bercengkerama lewat dunia tulisan yang penuh warna. Ah, saya tidak akan pernah tahu apakah saya akan menginjakkan kaki di tanah Bintan sana dengan selamat atau tidak. Apakah sesampainya saya di Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau, saya masih dapat bertutur lewat tulisan seperti ini. Ah, doakan saja teman. Insyaallah, selepas Maghrib nanti, Akbar dan Tama akan menjemput saya di Naga Swalayan, Jatiwaringin (lima menit dari rumah saya). Dan perjalanan dari Jakarta menuju Bintan, apakah tertulis dalam kitab takdir-Nya. Ah, sekali lagi, saya mohon doanya teman-teman. Semoga nantinya saya dapat kembali ke Jakarta. Semoga teman.

Semalam di Tanjung Priuk

Tepat pukul 19.20 WIB, Akbar dan Tama menjemput saya di depan Naga Swalayan, Jatiwaringin. Ah, sedih rasanya meninggalkan keluarga di Jakarta, tetapi apa daya, perjuangan masih harus dilanjutkan dan kerinduan pada keluarga pun kembali dikorbankan. Pelabuhan Tanjung Priuk yang terletak di utara Jakarta akhirnya akan menjadi titik ke pemberangkatan menuju pulau impian, Pulau Bintan.

Ah, tapi itu pun hanya rencana teman. Sesaat setelah saya naik mobilnya Akbar, Tama menginformasikan bahwa pemberangkatan ditunda satu hari, ada kerusakan teknis di kapal. Ah, rencana untuk bermalam di kapal pun sirna. Bayangan menikmati sunrise dan sunset di tengah lautan pun harus ditunda sementara waktu. Allah tahu mana yang lebih baik bagi hamba-Nya, meski terkadang kita merasa lebih tahu dan sok tahu, menggerutu dan bahkan menyalahkan takdir. Seperti halnya pada kejadian sabtu malam ini, akankah kita bermalam di Tanjung Priuk teman?

Sepanjang perjalanan, saya, Akbar, Tama dan kedua orang tua Akbar tidak henti-hentinya membahas kemungkinan yang akan dilakukan untuk menyikapi masalah ini. Ah, belum berangkat saja sudah ada satu ujian. Nampaknya memang akan menjadi KKN yang menarik teman. Dan memang ujian ini tidak hanya membuat 25 orang anggota kelompok KKN Bintan berpikir ekstra keras, tapi juga sampai membuat ayah ibu Akbar, keluarganya Neni dan Dito, saudaranya Fairus, Yanti dan Bagus pun ikut resah memikirkan. Ah, orang tua mana yang tega membiarkan anaknya terlantar dan kesulitan. Saya tidak bisa membayangkan betapa cintanya mereka kepada kita hingga kita pun tidak akan sanggup untuk membalas kebaikan mereka. Ah, walau terkadang kita tidak menyukai keputusan dari mereka. Seperti halnya kejadian malam ini di Pelabuhan Tanjung Priuk.

Sesampainya saya di Pelabuhan, suasananya memang ramai teman. Saya tertawa kecil melihat teman-teman yang terdampar seperti pengungsi dari Yogyakarta. Ah, lucu sekali teman. Jauh-jauh dari tanah Jogja hanya untuk menggembel di Tanjung Priuk, menarik sekali teman. Dan kejadian ini akan menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan mungkin teman saya yang lain. Menunggu kepastian yang akan dilakukan akibat pembatalan pemberangkatan malam ini. Ah, semua orang mengalami apa yang dinamakan kepanikan tingkat tinggi. Apalagi si Yoga sebagai wakil ketua. Yah, kebingungan untuk mengambil keputusan.

Yoga pun berkata,“Teman-teman, malam ini kita gak jadi berangkat. Dan sekarang kita memutuskan untuk kembali bermalam di rumahnya Neni. Bis sedang diusahakan menuju kesini. Harap maklum. Sekian”.

Inilah keputusan pertama sebelum rombongan saya, Tama, Akbar dan kedua orang tuanya tiba di Pelabuhan. Dan sesampainya disana, terjadilah proses dialektika yang melibatkan banyak orang, tidak terkecuali kedua orang tua Akbar. Saran dari mereka adalah tinggalkan saja barang-barangnya di sini agar tidak repot untuk mengangkutnya kembali. Dan biarkan kita menginap semua di pelabuhan bersama barang-barang. Ah, pertimbangan baru lagi. Masukan baru lagi. Dan keputusan baru lagi teman.

Maaf ‘Bu, ini Yoga temennya Neni. Insyaallah kita gak jadi pakai bis kantor bapaknya Neni karena kita akan menitipkan barangnya di pelabuhan saja. Maaf banget yah ‘Bu kalau merepotkan. Terima kasih”, kata Yoga menjelaskan pada ibunya Neni ketika membatalkan rencana awal.

Ah, sebuah keputusan yang membingungkan beberapa teman perumus putusan awal. Icak, Andri, Anjar, Dito dan beberapa teman yang lain pun menyayangkan keputusan baru ini. Ah, untuk kali ini saya hanya bisa diam. Tidak berkomentar apa-apa. Saya seperti seorang reporter yang sedang mengamati kejadian yang dialami kelompok KKN Bintan ini agar dapat diabadikan dan dilaporkan kepada khalayak ramai. Ah, keputusan yang sulit memang. Intervensi orang tua, semangat anak muda dan mimpi menuju Bintan, semuanya menjadi bumbu pada masakan yang dinamakan pembatalan pemberangkatan. Ah, rasanya lezat teman.

Ada banyak pertimbangan teman. Menunggu sehari semalam lagi di Pelabuhan jelas akan membuat lelah semuanya. Apalagi belum ada kepastian keberangkatannya. Kembali ke rumahnya Neni pun jelas tidak mungkin karena kita telah membatalkannya. Mencari penginapan untuk menitipkan barang yang banyaknya luar biasa ini pun belum menjadi jaminan. Hingga akhirnya para orang tua pun berhasil melobi petugas pelabuhan untuk mengizinkan kita bermalam di dalam pelabuhan dan menitipkan barang-barang. Ah, keputusan ini akhirnya menjadi keputusan final. Sebuah keputusan yang menyejarah teman, karena nantinya kita akan bermalam di Pelabuhan Tanjung Priuk untuk kali pertama.

Saya jadi ingat perjalanan teman-teman KKN Karimun Jawa yang sampai sepuluh hari tertunda keberangkatannya akibat cuaca yang tidak bersahabat. Kejadian yang dialami mereka lebih dasyhat teman. Barang-barang bawaan mereka sudah terkondisikan untuk siap diberangkatkan di dalam kapal. Tersusun rapih dan sulit lagi untuk dibongkar pasang. Dan ternyata pemberangkatan mereka tertunda. Jadilah mereka selama sepuluh hari harus membeli baju baru dan menikmati sebuah penantian panjang. Ah, menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan. Seharusnya ada buku yang mengupas tuntas masalah tentang penantian ini, agar menunggu tidak lagi menjadi suatu hal yang membosankan. Ah, kejadian KKN Karimun Jawa kembali terulang pada KKN Bintan. Menarik.

Saya pun teringat film Terminal yang dibintangi Tom Hanks teman. Kalau Tom Hanks terjebak di Bandara, maka 25 orang ini terjebak di Pelabuhan. Kalau bandara dalam film Terminal bertaraf internasional, maka pelabuhan tempat kita akan bermalam juga cukup lumayan lah teman. Tepatnya kita bermalam di ruang tunggu untuk para TKI. Tapi cukup mewah teman untuk standar Indonesia. Jangan membayangkan kalau kita akan bermalam di pelabuhan yang becek, kotor, gelap dan rawan akan tindak kejahatan. Kita cukup beruntung karena ruangan yang diberikan untuk kita bermalam adalah ruangan ber-AC, lengkap dengan toilet dan mushola berstandar nasional, luas dan lebarnya pun luar biasa teman. Ah, benar-benar seperti bandara dalam film Terminal teman, namun tidak terlalu mewah dan wah. Dan keputusan untuk bermalam di Pelabuhan Tanjung Priuk ternyata tidak salah teman, hanya Bagus dan Dito yang tidak bermalam di Pelabuhan karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Dan 23 orang tersisa memutuskan untuk bermalam di Pelabuhan Tanjung Priuk.

Ah, takdir Allah siapa yang tahu. Pemberangkatan kapal kita menuju Bintan pun tidak ada yang tahu. Kalau sesuai rencana, mungkin benar-benar hanya sehari kapal tertunda, tapi siapa yang dapat memastikan teman. Seperti pesan Toggy dan Aldino (dua orang anggota KKN Karimun Jawa) yang semalam tiba-tiba saja menelopon saya, mereka berppesan, semoga bermanfaat KKN-nya. Dan nikmati saja penundaan sehari ini, pasti ada hikmah yang tersembunyi dalam kejadian ini. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan arif dan bijak. Semoga saja hanya tertunda sehari teman. Ah, kita pun bermalam di Pelabuhan. Nasi memang telah menjadi bubur, tidak akan mungkin kembali menjadi nasi. Dan bagaimana menikmatinya, adalah dengan menambahkan kerupuk, bawang goreng, kecap, ayam, kuah dan sambalnya sesuai dengan selera dari teman-teman. Dan inilah yang kita lakukan malam ini, bermalam di Tanjung Priuk.

Terminal Penumpang Nusantara Pura II

Inilah lokasinya teman. Tepatnya di Ruang Tunggu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 26 Agustus 2006. Ah, sebuah ruangan yang cukup nyaman sebagai ruang tunggu saya rasa. Dan 23 teman-teman saya pun menikmatinya. Bermalam di ruangan yang lengkap fasilitasnya, ada posko kesehatan, VIP Room, Smooking Area, juga toilet dan mushola yang dilengkapi AC dan beberapa kipas angin dan ratusan kursi untuk menunggu. Ah, bahkan di balik kaca, saya dapat melihat kapal-kapal besar yang sedang merapat di dermaga. Sebuah pemandangan yang luar biasa teman. Dan saya pun membayangkan diri saya sedang berada di negeri orang. Ah, menarik sekali.

Dan di terminal inilah kita masih menunggu. Saya bahkan berhasil menyelesaikan membaca teenlit seri Alice : Sendiri Lagi Deh. Ah, saya tidak akan membelinya kalau bukan karena ada kupon lomba di dalamnya. Dan karena sudah terbeli, maka sayang kalau saya tidak membacanya. Ah, ternyata teenlit terjemahan milik Phyllis Reynolds Naylor ini begitu barat. Saya sama sekali merasakan perbedaan budaya itu. Ah, bukannya saya ingin terjebak pada budaya timur dan barat teman, tapi memang kita sebagai orang timur sudah saatnya untuk lepas dari intervensi barat, apalagi dalam hal sosial budaya. Kita berbeda teman, dan kita hanya perlu menerima budaya barat itu sebagian, tidak seluruhnya. Ah, benar apa yang dikatakan teman saya, sekaranglah saatnya perang pemikiran, siapa yang kuat, dialah yang bertahan. Dan saya hanya mencoba menyeimbangkan timur dan barat.

Ah, lepas dari polemik itu. Kita pun mengoptimalkan potensi yang ada di terminal yang terkunci dan tertutup rapat kecuali ketika sedang musim TKI dengan berfoto-foto. Ah, sayang sekali teman kalau kenangan ini tidak diabadikan. Dan kesempatan ini belum tentu datang untuk yang kedua kalinya. Jadilah saya, Icak, Taufik, Tama, Mastori, Andri, Fery dan Neni mengambil pose terbaiknya. Berpose melompat seperti merayakan kemenangan dengan latar tembok biru terminal, bergaya seperti foto model yang berada di bandara di luar negeri sana dan semuanya memang dibuat-buat teman. Ah, benar-benar seperti terdampar di negeri orang. Dan foto-foto ini akan menjadi saksi dan kenangan sebelum akhirnya kita benar-benar berangkat menuju Bintan.

Dan setidaknya saya mencatat dua hal menarik ahad pagi ini di Terminal Penumpang Nusantara Pura II. Pertama, saya menyaksikan bagaimana salehnya seorang Akbar HI menunaikan ibadah salat duha delapan rakaat. Ah, semoga kita semua mendapatkan berkah dari ibadah sunnahnya orang ini. Kedua, kita sama-sama menyaksikan bagaimana lucu dan anehnya mendengarkan si Yanti menelopon dengan bahasa Bima. Ah, serasa di negeri asing teman. Tidak ada satu pun yang mengerti bahasa dan logat khas suku Bima, Nusa Tenggara Barat itu. Ah, sama seperti ketika saya dan teman-teman SMA saya dari Jakarta yang baru saja tiba di Yogyakarta dan mendengarkan berita dengan bahasa jawa halus. Ah, serasa sedang menempuh S2 di luar negeri sana. Dan kali ini, mendengarkan si Yanti berbicara, kita serasa berada di bandara negeri asing. Ah, mengesankan teman. Pengalaman yang tidak terlupakan.

Dan 23 orang ini pun sarapan bersama. Sepuluh orang perempuan, Sari, Yanti, Desi, Adiba, Neni, Fairus, Erhan, Ida, Erni dan Afi serta tiga belas orang laki-laki, saya, Anjar, Mastori, Wahyu, Tama, Akbar, Akbar HI, Andri, Taufik, Bayu, Icak Yoga dan Fery mencoba menikmati bagaimana rasanya menjadi pengungsi. Ah, saat-saat seperti inilah yang akan terngiang teman. Saat makan nasi padang hanya dengan satu tempe dan sedikit sambal hijau seharga empat ribu per bungkus dengan lauk tambahan seperti abon, orek tempe dan telur asin yang dibagi dua. Ah, nikmat sekali kawan. Maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan. Menanti datangnya Kapal Motor (KM) Ciremai yang akan mengantarkan kita ke Bintan memang terkadang membosankan teman. Butuh strategi untuk membunuh rasa bosan itu. Saya pun tidak ingin mati karena kebosananan. Maka saya pun mengambil laptop dan menyalakannya. Menuliskan apa yang telah saya alami dan mencoba berbagi cerita dan hikmah yang ada di dalamnya. Ah, benar-benar KKN yang luar biasa teman. Dan saya pun tidak tahu hal apa lagi yang akan mengejutkan KKN Bintan kali ini. Sungguh.

Dari Terminal Penumpang Nusantara Pura II ini pun saya melaporkan pesan dari teman serumah saya di Yogyakarta sana, Bowo namanya. Saya pun menjawab sejujurnya.

Ud naek kapal nji?

Belum, kita masih ada di terminal penumpang. Mohon doanya yah!

Wah dsini kita brdoa bwt lo smbil mkn2 rndang. Lo emg naek kplny kpn?

Wah, saya juga banyak cemilan disini. Insyaallah ntar malem baru naek kapal.

Enakan rendang. Ud bnyk, enak, gratis lg. Lo br ntar mlm naekny?

Iya deh, enakan rendang. Iya nih, br ntar malem naeknya. Tp disini tmptny keren!

Lo d trminal mana?

Terminal Penumpang Nusantara Pura II.

Semakin siang teman. Teman-teman banyak yang tertidur pulas karena bosan menunggu dan mungkin kekenyangan. Ah, saya pun masih menikmati suasana tenang seperti ini. Memandang kapal-kapal besar di balik jendela terminal, mendengarkan senandung nasyid yang syahdu dan menuliskan kata hati saya, langsung dari Terminal Penumpang Nusantara II.

Beberapa Jam Lagi Teman!!!

Beberapa jam menjelang keberangkatan kapal (kalau sesuai rencana yah), beberapa menit menjelang berkumandangnya adzan Subuh, beberapa saat menjelang terbitnya matahari dari timur, saya masih berada di depan laptop saya. Masih bercerita dan bercengkerama dengan dunia kata-kata ini.

Ah, kapal kita ditunda kembali keberangkatannya teman. Menyebalkan. Seharusnya jam delapan malam kapal kita berlayar, tetapi dari informasi yang didapatkan, kita baru akan berlayar jam delapan pagi nanti. Ah, saya pun mencoba menikmati saja keadaan seperti ini. Mencoba berpikir positif dan jauhi prasangka saja teman. Tidak ada gunanya saling menyalahkan.

Dan kondisi kita di terminal ini masih baik-baik saja teman. Kemaren sore, setelah mendengar informasi penundaan kembali pemberangkatan tersebut, saya, Akbar HI, Anjar, Bayu, Erni, Fairus dan Adiba memutuskan untuk jalan-jalan keluar terminal penumpang ini. Mencoba menghirup udara bebas yang ada di Tanjung Priuk. Ah, lagipula terminal sudah dibuka untuk penumpang yang lainnya. Sudah tidak eksklusif lagi teman. Dan jadilah sore itu kita nongkrong di sebuah warung.

Ada hal yang seru dan mendebarkan ketika saya dan teman-teman jalan-jalan sore di sekitar pelabuhan. Ternyata ada yang mengikuti dan membuntuti kita teman. Mengerikan sekali teman. Meskipun yang mengikuti hanya seorang, tapi tetap saja mengerikan. Apalagi ini Tanjung Priuk teman, yang kuat yang berkuasa dan menang. Tetapi beruntung, Bayu, Anjar dan Akbar HI menyadarinya sejak awal. Maka kita pun memutuskan untuk nongkrong saja di sebuah warung, lagipula si Anjar ingin sekali makan bakso. Dan orang yang mencurigakan itu pun akhirnya menghilang untuk sementara waktu. Ah, semoga tidak bertemu lagi di KM Ciremai nanti.

Sore ini pun si Yanti masih berceloteh aneh dengan bahasa dan logat Bima-nya yang khas. Bahkan dia diminta bernyanyi lagu daerahnya. Ah, lucunya, dia pun benar-benar menyanyikannya. Dia menyanyikan lagu sedih tentang seorang wanita yang menjadi batu karena terlalu lama menunggu kekasihnya kembali. Ah, semoga kita juga tidak menjadi batu karena terlalu lama menunggu teman. Dan yang membuat kita semua tertawa terpingkal-pingkal adalah ekspresi dari si Yanti yang menyanyikan lagu sedih itu begitu lucu. Sama sekali tidak ada ekspresi kesedihan. Tambahan lagi, kita sama sekali tidak mengerti bahasa Bima yang terdengar aneh itu. Ah, saya pun tidak bisa menahan tawa saya. Gelak tawa terdengar membahana dari sebelah selatan terminal sore itu kala Yanti bernyanyi lagu daerah Bima. Ah, untung saja saya tidak satu sub unit dengan Yanti.

Dan malamnya, kita pun kembali berkumpul membentuk lingkaran besar. Ada yang tahu untuk apa? Ah, tentu saja untuk makan malam teman. Kali ini kita mendapatkan jatah makan dari terminal. Hebat juga yah. Kelas ekonomi saja mendapatkan makan dengan lauk daging ayam, apalagi yang kelas eksekutif yah. Ah, semuanya terasa menyenangkan teman. Maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan. Nikmatnya sehat. Nikmatnya kebersamaan. Nikmatnya persahabatan dan persaudaraan dalam KKN Bintan. Ah, menarik sekali teman.

Dan menunggu memang tidak selamanya membosankan teman, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya dengan bijak dan arif. Bahkan ketika menunggu, kita dapat melakukan suatu hal yang biasanya tidak kita lakukan. Bahkan saya berhasil menyelesaikan dua bacaan saya, dua bacaan ringan sih. Stranger Than Fiction-nya NoRiYu dan Cakrawala di Sudut Mata Callyndina-nya karya Arfian, teman saya di mentoring SMA 2 Yogyakarta. Ah, selalu menarik memang membaca itu. Benar kata orang kalau membaca itu membuka jendela dunia. Dan saya kembali mengintip sekilas dunia yang penuh warna itu. Ah, menunggu memang tidak selamanya membosankan teman.

Kabar dari teman-teman di Yogyakarta bahkan menjadi informasi yang begitu berharga teman. Seperti balasan dari teman saya yang KKN di daerah Kalasan.

W3. Af1 nji bru bls.. he3, KKD paan nji? Yg ad dsni gw KKR (Kuliah Kerja Rapat). Lu ndri gmn?? Skses prgrm “mlarikan diriny”?

Gunawan Matematika’04

Ah, kenapa semua teman saya mengira saya sengaja melarikan diri dengan KKN jauh-jauh di Bintan sana. Ah, mungkin saya memang harus meluruskan niat saya kembali. Semoga saya tidak sengaja memilih KKN jauh hanya untuk melarikan diri dari amanah. Semoga saja tidak teman. Bukankah apa yang kita dapatkan nanti tergantung dari apa yang kita niatkan. Semoga KKN saya kali ini bermanfaat bagi semua. Mengutip dari quote adik saya Fajar, “Menjadi orang yang berguna bagi orang lain”, itulah tujuan utama KKN saya, tidak lebih.

Ah, semuanya memang begitu menyenangkan teman. Memang benar kalau pengalaman adalah guru terbaik. Saya belajar banyak hal dari KKN Bintan kali ini. Saya mengenal orang-orang yang baru dalam KKN Bintan kali ini. Saya mendapatkan sebuah pengalaman yang begitu berharga teman. Ah, beberapa jam menjelang keberangkatan, semoga semuanya menjadi kenyataan. Kalau Andre Moller sampai menulis buku Ramadhan di Jawa, semoga saya dapat menyelesaikan cerita KKN Bintan saya dengan sempurna. Ah, seperti motto-nya Forum Lingkar Pena, “menggapai takwa dengan tinta”, saya berharap cerita ini dapat terus berlangsung sesampainya saya di Pulau Bintan sana. Ah, semuanya kini tinggal beberapa jam lagi teman!!!

Pelayaran KM Ciremai

Alhamdulillah!!! Saya berteriak kecil dalam hati. Tidak enak kalau dilihat orang satu terminal jika teriak langsung. Takut membuat malu 24 rekan saya yang lain.”Ih, Panji, kayak baru lihat kapal laut aja”. Ah, saya memang senang bukan kepalang ketika kepastian KM Ciremai itu akan berlabuh dan kemudian berlayar. Seperti Padi dengan Menanti Sebuah Jawaban, akhirnya kita pun akan berangkat menuju Bintan teman. Segera!!

Ah, tapi memang semuanya membutuhkan proses teman. Setelah menyaksikan KM Ciremai yang berukuran teramat sangat besar itu merapat, langsung saja ratusan orang datang mengerubungi, layaknya semut yang kedatangan gula, KM Ciremai tiba-tiba ramai dan ah, saya tidak bisa membayangkan akan berada di kapal besar seperti itu. Dan saya menyebutnya Titanic-nya versi KKN Bintan, tetapi tanpa Leonardo Di Caprio dan Kate Winselt. Ah, menarik teman.

Akhirnya 25 orang ini bisa merangsek masuk ke dalam kapal dengan barang bawaan yang bejibun banyaknya tepat pada pukul 10.30 WIB. Ah, perjuangan yang melelahkan teman. Dari dek lima yang harusnya kita tempati, kita pun terpaksa hijrah ke dek enam tepat di bagian luar. Dek lima sudah dikuasai orang lain. Kelas ekonomi memang keras. Dan di dek enam, anginnya ternyata kencang menyejukkan dan semua barang pun sudah selesai diangkut. Waktunya untuk rebahan dan istirahat barang sejenak teman. Ah, nikmatnya. Tetapi tiba-tiba ada pesan masuk dari salah seorang pengurus KAB Pertanian UGM.

Aslm. Cie.. yg dah DMK tk lanjt. Undangn amniah disebr2! Dah tk ksh Aji, Budi, plng. Atm msh mrh y! koq, sms sy dipajang gt. Sy ga nuduh atm ga amanh! Evaluasikn blh aj!

Hanami KAB’06

Sebelum berangkat KKN, saya memang menitipkan beberapa buku untuk pengurus KAB kepada beliau. Takut tidak ada kesempatan teman. Dan tidak lupa saya tulis pesan yang beliau kirim beberapa hari yang lalu. Pesannya yang lucu saya pikir. Semuanya saya tulis di atas kertas bekas undangan DMK yang amniah itu. Ah, saya menganggap semuanya itu biasa saja teman.

Dan baru saja saya ingin mengirim pesan balasan. Si Hanami sudah mengirim pesan lagi. Ah, tapi saya kirim saja dulu balasannya, sebelum saya membaca pesan selanjutnya itu.

As. Sy dah gak marah koq, cm lucu aja sms-nya, makanya sy tulis lagi. Af1.

Panji

Ah, pesan dari si Hanami ternyata hanya laporan tentang titipan dari saya untuk memberikan buku kepada beberapa orang pengurus KAB.

Lapor. Budi dah tk ksh, Mitha pulang, Ulia ga ktmu.

Hanami KAB’06

Dan tidak lama kemudian kembali beliau mengirim pesan kepada saya. Ah, nanti sajalah saya membalasanya, kita harus pindah lagi, karena ternyata kita mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan aman di dek dua. Dan itu berarti, hijrah kembali dengan barang bawaan yang bejibun banyaknya. Ah, benar-benar KKN teman. Sungguh terasa pengalamannya. Sungguh terasa lelahnya. Dan ternyata pesan dari si Hanami itu membuat saya kembali tertawa ringan. Benar-benar orang yang aneh. Ah, tapi pesan terakhirnya itu benar-benar lucu.

Alah, bilang aj! Sbenarny sms sy kekanak2an kn! Cm atm ga mau blng ky gt. Trus nyindir dg halus.

Hanami KAB’06

Ah, sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan lagi pesan itu dan memang tidak perlu dibahas lagi teman, saya kembali balas pesan itu dan meminta maaf. Lucu sekali memang, semuanya ini menjadi warna tersendiri ketika akhirnya KM Ciremai mulai berlayar mengarungi luas samudera. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya akan menuju Pulau Bintan, sebuah pulau yang berukuran paling besar di Kepulauan Riau.

Ah, tapi ternyata kita tidak langsung berangkat teman. Kita masih harus menunggu lama sampai KM Ciremai ini berjalan. Saya dan beberapa teman memilih makan setelah mendapatkan tempat yang nyaman di dek dua ini. Ah, nikmatnya makan siang dengan teri pedas, salondreng, orek tempe dan rendang. Dan setelah makan, saya, Anjar dan Mastori menuju dek tujuh untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Dan, ah, subhanallah teman. Musholla An Nur di dek tujuh benar-benar nyaman. Sejuk dan full AC. Benar-benar memberikan cahaya semangat di tengah kelelahan dan kegelapan. Dan kita pun menjamak qashar shalat Dzuhur dengan Ashar karena itulah keringanan yang Allah berikan kepada musafir yang melakukan perjalanan panjang. Ah, maka nikmat Tuhan manalagi yang hendak kamu dustakan.

Dan akhirnya, pelayaran itu pun dimulai pada pukul 17.00 WIB. Ah, penantian panjang teman. Hampir lima jam kita menunggu dan menanti. Cukuplah untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi di dek dua tempat kita istirahat selama perjalanan nanti. Ah, dek dua besar dan luas sekali teman. Apalagi hanya rombongan kita dan beberapa orang yang ada di dek dua ini. Serasa milik sendiri teman. Padahal tiket kita hanya kelas ekonomi. Lebih dari cukup saya rasa semua ini. Penantian panjang dari sabtu malam hingga senin sore itu terbayar tuntas. Kesabaran itu membuahkan hasil. Dek dua tempat kita beristirahat PW (posisi wuenak) tenan alias nyaman sekali. Ah, subhanallah teman. Menyenangkan!!!

Maghrib dengan menikmati sunset di tengah laut. Mendengarkan lantunan adzan Maghrib di KM Ciremai yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Menikmati birunya langit dan lautan. Ah, hati saya lapang dan tenang. Senandung nasyid dari Fatih pun mengalun meneduhkan menemani pelayaran KM Ciremai kali ini.

Tak terbayangkan, yang mungkin ‘kan terjadi, di masa belia ini, dapatkan iman ini”.

Cerita itu Berasal dari Dek Dua

Ba’da shalat Isya di Musholla An Nur yang berada di dek tujuh, ba’da mengikuti ta’lim (kajian) selepas shalat, saya tersesat ketika ingin kembali menuju dek dua. Tersesat bersama si Anjar. Ah, bodoh. Saya sampai benar-benar pusing dibuatnya. Huah!!! Pusing memikirkan saya jalan kembali menuju dek dua. Belum lagi ombak yang semakin besar teman. Nyut-nyut-nyut-nyut, kepala saya pusing tiba-tiba. Nasehat dari ta’lim tadi berupa empat hal yang menyebabkan kemunduran umat Islam (kurangnya kepahaman tentang makna syahadatain, faktor kepemimpinan, tidak diterapkannya hukum Islam dan penyakit wahn yaitu cinta dunia takut akhirat) juga sedikit menambah berat kepala saya. Ah, KM Ciremai terlalu besar buat saya, begitu juga ombaknya.

Dan, fuih, alhamdulillah. Ketika saya dan Anjar sudah mabok kepayang mencari-cari ruang di dek dua, akhirnya kita menemukan ruang peristirahatan itu. Ah, langsung saja saya rebahan. Saya sudah tidak tahan lagi menanggung beban yang teramat berat ini, kalau kata orang Melayu, berat sangat beban ini. Huah!!! Saya mabok laut dan butuh istirahat segera. Ah, pengumuman tentang bioskop romantis dewasa yang ternyata adalah film-film ‘dewasa’, atau kata si Tama, film orang miskin, membuat saya semakin ingin langsung tidur. Dan dengan kepala mau pecah, saya pun tertidur, entahlah, pulas atau tidak.

Ba’da Subuh yang agak sedikit kesiangan. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama 24 pengungsi dari Yogyakarta (kondisi kita memang memprihatinkan teman) dengan lauk seadanya (ada keripik kentang pedas, teri kacang pedas, salondreng, abon sapi dan rempeyek). Ah, tapi tetap saja nikmat. Tetap saja lezat teman. Apakah mungkin kita sudah berhalusinasi karena melihat ombak menggulung-gulung persis di samping jendela yang ada di dek dua tempat beristirahat, sehingga mempengaruhi kinerja otak dan akhirnya kita berpikir kacau. Ah, nampaknya tidak teman. Memang benar kata banyak orang, rasa terlezat dalam sebuah masakan adalah rasa lapar. Saya dan 24 pengungsi dari Perguruan Gadjah Mada telah membuktikan teori klasik itu teman. Ah, nikmatnya makan setelah lapar teman.

Hari ini ada juga undangan untuk KAB terkait dengan program KSF Goes to School bersama teman-teman Kelompok Studi Universitas (KSU) Gama Cendikia pukul 13.00 WIB di Fakultas Kehutanan. Ah, saya pun mendelegasikan undangan tersebut pada Tika, Penanggung Jawab Sementara (PJS) KAB selama saya KKN dan Hanami yang memang menjadi Kepala Divisi (Ka.Div) Jaringan Internal KAB. Tenang saja teman, saya percaya penuh kepada mereka berdua.

Aslmkm. Insyaallah dcoba ntar ada yg dtg. Aq udh bc email-mu. Subhanallah ji.. sgtu prcy.. smg nnt ga mgecewakan. Tak usahain sbaik mgkn. Btw : PH sp aja ya..

Tika KAB’04

Di dek dua KM Ciremai, saya akhirnya juga menyelesaikan Novel Sejarah karya Tasaro yang berjudul Samita. Ah, novel yang mengambil latar belakang sejarah Laksama Cheng Ho ini ternyata menarik juga teman. Membacanya, saya langsung teringat pada kisah dua pahlawan yang ada dalam dunia persilatan Indonesia, Si Buta dari Gua Hantu dan Wiro Sableng. Ah, saya membacanya dengan takjub karena nilai yang ingin disampaikan dalam novel ini begitu mulia. Tapi saya juga membacanya dengan tertawa lepas bahagia karena setting dan latar-nya itu, Kho Ping Ho (cerita bergambar tentang pendekar silat yang melegenda pada dasawarsa 80-an dan 90-an) sangat. Ah, Tasaro dan Samita, novel yang menyejarah teman.

Dari dek dua KM Ciremai ini juga mengalir banyak cerita yang akan terus saya ingat teman. Ketika si Anjar, Fery, Yoga dan Neni sukses menonton tiga film sekaligus (Vantage Point, Unstopable Marriage dan Pay It Forward). Ketika si Yanti, Desi, Erhan, Erni, Afi, Sari, Fairus, Adiba dan Ida dengan seriusnya menikmati film Princess of Hours selama berjam-jam, sampai 24 episode. Ah, perempuan kalau sudah menonton memang parah benar teman. Ketika kita semuanya tertawa melihat film kartun Ipin dan Upin yang bahasanya melayu sangat. Ah, jadi ingat Firman si kormanit yang bahasa mirip Ipin dan Upin. Lucu.

Ketika semuanya senang campur kesal dengan Mastori yang senang menulis dan difoto. Ketika ba’da Maghrib, saya, Anjar, Dito dan Neni tilawah (red. membaca) Al Qur’an. Ketika kita makan malam bersama untuk terakhir kalinya di KM Ciremai. Ketika sepanjang hari menikmati riuh rendahnya suara mas-mas dan mbak-mbak penjaja makanan, minuman dan mainan. Ketika mengetahui ada yang berbuat macam-macam di dek dua bagian dalam hingga akhirnya pihak security pun harus turun tangan langsung. Ketika akhirnya saya ikut bermain poker bersama Anjar, Fery, Akbar, Fairus, Sari dan Neni. Ah, apakata dunia persilatan nantinya teman. Ketika Bagus memecahkan lampu dengan kepalanya karena badannya tinggi sangat. Ketika mendengarkan tutur kata cerita bapak mekanik tua yang saya lupa namanya. Bahkan saya sangat tersejut ketika mengetahui kalau beliau ternyata penah bekerja di Kapal Tampomas yang kecelakaannya teramat dasyhat itu. Ah, subhanallah teman, ketika Tampomas celaka, beliau ternyata sedang mengambil cuti. Kematian seperti halnya jodoh dan rezeki memang pemberian dari Allah yang misterius. Hanya satu yang perlu dilakukan. Mersiapkan semuanya.

Ah, kabar dari Yogyakarta juga begitu menggembirakan teman. Urusan klaim asuransi kecelakaan yang diurus langsung oleh teman satu rumah saya, Bagus namanya, sarjana hukum pula, selesai dan tidak ada masalah. Senangnya. Saya pun berpesan kepada Bagus agar membeli sebungkus roti bakar untuk teman satu rumah sebagai ucapan rasa syukur atas cairnya uang itu. Terima kasih ‘Gus!!!

Udh kelar, totalny 107 ribu=75%! Sip kan…

Masa smua uangnya bt beli roti bakar? Oya, Bowo tany tuh gmana keadaan dsn?

Cerita dari dek dua akhirnya akan berakhir ketika KM Ciremai ini merapat di Pelabuhan Kijang. Ah, menyenangkan semua cerita ini. Bisa saya ceritakan ke anak cucu nanti teman. Ah, rabu mendekati tengah malam, KM Ciremai segera tiba. Cerita dari dek dua akan selesai segera. Senin pagi hingga selasa malam di KM Ciremai begitu berkesan teman. Seperti berhari-hari terapung di laut saja. Ah, cerita dari dek dua pun usai. Daratan Kijang nampak. Kita pun tiba di Bintan.

Hari Pertama

Ah, akhirnya resmi juga kita dilepas sebagai mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) teman. Rabu menjelang siang di kantor Kecamatan Gunung Kijang, setelah melalui berbagai serimonial, Bapak Hasan selaku Camat Gunung Kijang secara simbolik melepas kita selama dua bulan untuk kuliah dan bekerja secara nyata di wilayah Kecamatan Gunung Kijang, tepatnya Kelurahan Kawal, Desa Teluk Bakau dan Desa Malang Rapat. Bismillah.

Siapa sangka kalau ternyata teman-teman di Kelurahan Kawal mendapatkan pondokan yang nyaman. Ibu dan bapaknya baik hati, sarana dan prasara lengkap tersedia, bahkan laundry pun ada. Ah, Ibu Mas dan Pak Has memang orang tua yang baik. Keduanya bahkan berusia sama dengan kedua orang tua saya. Sama-sama selisih sepuluh tahun dan sama-sama kelahiran tahun 1962 dan 1955. Kebetulan yang tidak direkayasa sama sekali teman. Ibu Mas dan Pak Has kini menjadi induk semang bagi saya, Bayu, Fery, Mastori, Icak, Sari, Erni dan Neni. Kita berdelapan berada dalam satu sub unit, di Kelurahan Kawal.

Ba’da subuh (kita kesiangan bangun teman), kita mandi dan berkemas untuk berangkat pelepasan di kantor Kecamatan Gunung Kijang. Sebelumnya kita sarapan dengan nasi sayur waluh dan sambel teri yang telah disediakan ibunya. Ah, nikmat sekali teman. Panganan yang mantap di hari pertama kita KKN. Cukuplah sebagai bekal energi hingga siang nanti. Dan kita pun sarapan dengan lahap di ruang makan keluarga. Sarapan pertama di hari pertama.

Ah, Ibu Mas juga memiliki dua anak. Satu putra dan satu putri. Keduanya sudah menikah dan berkeluarga. Kak Mei dan Bang Faisal namanya. Pagi ini, Kak Mei singgah di rumah kita bersama Zahmi, anak laki-lakinya, cucu dari Ibu Mas. Ah, lucu sekali anak kecil berusia enam tahun, berperawakan gemuk, kulit coklat sawo matang dengan kedua pipi yang tembem. Lucu sekali teman saat kita melihat Zahmi yang ternyata sudah pandai tulis namanya sendiri. Z-A-H-M-I. Belum lagi sifatnya yang pemalu dan pendiam. Suaranya yang ternyata agak nge-bas, cita-citanya yang ingin menjadi polisi dan belum mandi paginya anak itu, membuat kita semua tertawa senang dengan kehadiran Zahmi. Kak Mai, ibu-nya Zahmi pun senang melihat Zahmi kecilnya menjadi fokus perhatian delapan orang mahasiswa KKN dari UGM. Seperti artis dengan penggemarnya. Ah, Zahmi yang lucu nan menggemaskan.

Acara pelepasan di kantor Kecamatan Gunung Kijang juga berlangsung meriah teman. Kita memulainya jam 11 lewat di ruang pertemuan yang ada di kantor kecamatan. Anjar menjadi pembawa acara, Erhan menjadi si pembawa topi di atas nampan (untuk pelepasan secara simbolik), Firman yang memberikan sambutan selaku kormanit, Icak dan Sari ada di balik kamera dokumentasi dan saya yang menutupnya dengan doa. Ah, ramai. Lucu. Seru sekali teman. Aparat pemerintahannya masih muda kebanyakan. Dan yang membuat kita semua tersenyum geli kemudian tertawa terpingkal-pingkal adalah tradisi berbalas pantun yang benar-benar dipraktikan teman. Ah, melayu sangat.

Jadi, setelah Bapak Hasan selaku Bapak Camat Gunung Kijang resmi membuka acara dengan bacaan bismallah, beliau menutup sesi pembukaan dan sambutan ini dengan sebuah pantun. Ah, menarik teman. Tapi sayang ketika Firman memberikan sambutan selaku kormanit, beliau belum mempersiapkan pantun balasan. Putra asli Bintan ini pun hanya tersenyum, tersipu malu dan meminta maaf. Satu kosong UGM tertinggal. Kemudian setelah pelepasan simbolik dengan memakain topi KKN kepada Firman sang kormanit. Saya pun menutup acara ramah tamah ini dengan doa. Ah, jujur teman. Saya pun sempat bingung, ragu dan deg-degan ketika baru sampai di kecamatan, Firman mendaulat saya untuk membacakan doa pada acara ini. Ah, bagus sekali teman. Kemampuan terbaik memang baru akan keluar dan kelihatan ketika kita terpaksa dan terdesak. Dan saya pun tidak bisa menolak ini semua. Ah, akhirnya sebelum memimpin doa pun, saya berhasil menyamakan kedudukan dengan terlebih berpantun ala mahasiswa.

ada banyak drum untuk ditabuh, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dan doa itu pun akhirnya usai. Tidak ada artinya daya dan upaya manusia tanpa doa. Ah, manusia hanya bisa merencanakan, tapi Allah yang akhirnya menentukan. Semoga KKN kita di Bintan lancar. Amin.

Sambil menunggu konsumsi makan siang disajikan, kita beramah tamah dengan semua aparatur desa. Sekretaris Camat (sekcam), Pak Roni; Komandan Laut Gunung Kijang, Bang Rudi; Lurah Kawal, Pak Isral; Kepala Desa Malang Rapat, Pak Sakir; sisanya saya lupa teman. Fokus kita sudah berpindah ketika boks berisi makanan hadir dihadapan. Waktunya makan siang. Ah, perpaduan Jogja dengan Melayu teman. Siapa sangka kalau kita makan siang dengan diiringi senandung nada dari Letto. Saya tidak sangka kalau suasananya benar-benar serius tapi santai. Mengejutkan teman.

Lalu siangnya, masih di kantor kecamatan, kita ada rapat satu unit. Laporan dari masing-masing sub unit. Pertama, laporan sub unit Kawal, aman damai terkendali. Wah, fasilitas kita lengkap teman. Makanan pokok dan cemilan, kendaraan, baik motor maupun mobil hingga cucian pun di-laundry, kecuali beberapa jenis pakaian tentunya. Hanya tinggal deal-deal-an dengan Ibu Mas tentang tarif dan harga yang harus dibayarkan atas segala sarana dan pra sarana yang kita dapatkan. Kedua, kabar dari sub unit Teluk Bakau yang paling kacau. Lokasi pondokan putra dan putri terpisah jauh sangat. Harus berkendaraan teman kalau tidak mau lelah di jalan. Dan yang paling seru dari semuanya adalah cerita dari pondokan putra Teluk Bakau tentang my brother. Ah, lucu sangat teman. Menakutkan tapi jenaka. Menghibur sekaligus mengundang rasa iba. Seru!!!

Yoga selaku koordnitor sub unit (kormasit) Teluk Bakau melaporkan. Selasa malam hari ketika mereka (Yoga, Akbar HI, Bagus, Akbar dan Tama) baru tiba di pondokannya. Mereka sudah dinantikan oleh beberapa pemuda lokal. Ah, sambutan yang hangat dan meriah teman. Salah satu pemuda yang menyambut kedatangan Yoga dkk. langsung menyapa dengan ramah dan hangat, “Hello my brother”. Ah, senangnya ketika dianggap saudara. Seperti baru bersua dengan saudara jauh saja teman. Ibarat juga pertemuan dua sahabat yang lama terpisahkan. Persaudaran yang begitu mengharu biru. Seperti kisah sahabat Muhajir yang disambut oleh sahabat Anshar. So sweet!!!

Tapi sial, para pemuda itu juga membawa minuman persahabatan. Tuak, anggur atau apalah itu namanya. Minuman alkohol yang cukup memabukan teman. Dan pemuda yang menyapa hangat Yoga dkk dengan sapaan “my brother” ternyata sudah setengah sadar atau bahkan mabok sekalian, entahlah. Bicaranya pelan dan santai, tapi tidak jelas, karena jelas-jelas, my brother sudah mabok ternyata. Oh ya, my brother ternyata juga pandai berbahasa Inggris. Jujur teman, my brother memang pandai berbahasa Inggris bukan karena mabok, tapi karena memang pandai. Duduk berbincang sambil ditemani dengan minuman, membuat Yoga dkk. semakin tertekan. Apalagi hari sudah berganti malam, bahkan sudah masuk hari rabu. Apalagi mereka juga baru saja sampai, masih jet lag. Dan mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menghargai suguhan minuman beralkohol itu. Akbar, Bagus dan Tama memilih untuk meminumnya, cari aman atau memang sekalian, mumpung ada kesempatan. Yoga hanya menempelkan gelas di mulut, tanpa meminumnya, akting yang hebat teman. Tapi Akbar HI lebih hebat, dia menolak untuk minum. My brother pun berkata sambil mabok, “Ustadz.. tidak.. minum ya…”. Ah, suasananya ternyata begitu mencekam.

Masih beruntung bagi mereka, ada Akbar HI yang memang asli Bintan disana. Mengertilah dia dengan gurauan berbahasa melayu itu yang dilafazkan setengah sadar oleh my brother dkk. ketika Akbar HI tertawa, Yoga, Tama, Bagus dan Akbar baru ikut tertawa. Akbar HI diam, mereka ikut terdiam. Kasihan. Bahkan katanya, setiap malam, my brother dkk. selalu berkumpul dan bercengkerama. Ah, lingkungan yang menyeramkan. Pondokan putra di Teluk Bakau begitu mengerikan teman. Di luar prediksi dan perkiraan. Berbeda 180o dengan pondokan putrinya. Nasib-nasib, siapa yang tahu teman.

Ketiga, berita dari Malang Rapat bisa dikatakan biasa saja. Tidak ada kendala yang berarti. Selain ada Firman yang back up-nya kuat, mereka juga berlokasi langsung di rumah bapak kepala desanya. Dan ternyata listrik ada di pondokan mereka. Ah, tidak ada masalah berarti disana. Selesai semua melapor, kita pun pulang ke pondokan masing-masing. Fuih, lelah sekali teman. Saatnya melanjutkan istirahat yang tertunda di pondokan. Tidur siang atau apalah.

Siang hingga Ashar. Pondokan Kawal ramai teman. Ada tiga orang dari sub unit lain yang berkunjung atau lebih tepatnya tertinggal setelah dari kantor kecamatan. Akbar dari Teluk Bakau yang jadi supir mobil pick up milik Kawal, juga Dito dan Wahyu dari Malang Rapat. Ada senda gurau yang menghilangkan penat, ada juga ngedumel dan menggerutu di belakang layar. Ah, inilah dinamika KKN Bintan teman. Ada senang. Ada sedih. Ada bangga. Ada kecewa.

Hari pertama di Bintan, saya sempatkan untuk shalat Ashar berjamaah di Masjid Al Islah yang berada di sebelah barat pondokan, hanya beberapa meter. Kemudian kenalan dan berbincang sejenak dengan imam masjidnya (ah, saya lupa namanya, mungkin Pak Sis) dan juga Bang Rudi (salah seorang warga). Ketika Maghrib tiba, saya pun mengajak Mastori, Fery dan Wahyu untuk berjamaah disana. Ah, ternyata gelap sekali teman suasananya. Matahari hilang, berganti bulan.

Dan, malam akhirnya tiba. Saya mengantarkan Akbar pulang ke Teluk Bakau. Jauh dan gelap. Kanan kiri tidak nampak apapun. Ah, saya tidak bisa membayangkan berjalan sendiri di tengah malam seperti ini. Saya hanya memikirkan bagaimana pulangnya nanti. Sendiri. Ditemani sepi. Ah, bukannya saya takut penampakan atau hal mistis lainnya, saya hanya takut kalau ada tindak kejahatan di jalan. Ah, pasrahkan saja semuanya pada Allah, la hawla wala quwata illah billah.

Alhamdulillah, setelah singgah sejenak di pondokan putra yang sebenarnya cukup nyaman, berkenalan dengan Pak Agus, Bang Deni, Dek Rini dan Dek Bayu lalu ikut mengantarkan para ranger (begitu kita menyebut lima serangkai di Teluk Bakau, Yoga, Akbar HI, Tama, Akbar dan Bagus) menuju pondokan putri kemudian ikut berbincang dan kenalan kembali dengan Ibu Pur (pemilik rumah) serta Pak Kepala Desa Teluk Bakau (kalau saya tidak salah), saya langsung pamit pulang. Alhamdulillah, sampai juga teman. Tips-nya ada dua, berdoa atau membaca surat-surat pendek Al Quran sepanjang perjalanan dan fokus pada cat putih barrier di sepanjang jalan Teluk Bakau dan Kawal. Kalau kata Dora dalam Dora The Explorer, “Berhasil-berhasil-berhasil, hore!!!”

Tiba di Kawal, tepat saat makan malam,kemudian dilanjutkan dengan kunjungan kerja ala Sub Unit Kawal alias silaturahim ke rumahnya Pak RT 04. Ditemani dengan Pak Amirudin (the best guide in Kawal), adik ipar Ibu Mas yang setia membersamai dan menemani, kita pun silaturahim ke rumah Pak Yani. Ramah tamah dan perkenalan yang hangat. Hari pun semakin malam dan kita memutuskan untuk pulang. Ah, saatnya untuk tidur. Selamat tidur!!!

Hari pertama pun kita tutup dengan rapat sub unit. Bayu atau kita memanggilnya Pak RT memimpin rapat perdana ini. Agendanya hanya evaluasi hari pertama ini dan merencanakan hari esok. Bukankah gagal dalam merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Ah, hari pertama KKN di Bintan sungguh melelahkan, tapi sangat berkesan.

Lewat Sudah, Tiga Hari ‘Tuk Selamanya

Hei!!! Sudah tiga hari kita KKN di Bintan teman. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. Saya bingung akan mengawalinya dari mana. Kalau saya mengawalinya dengan, “Pada suatu hari…”, ah, saya jadi ingat masa ketika SD. Jadi biarkan saja jemari ini menari di atas laptop sesuai dengan perintah otak yang berkombinasi dengan hati. Ah, tapi sayang, ternyata saya mulai mengantuk teman.

Seperti sifat waktu yang cepat berlalu dan tidak akan kembali, KKN Bintan kita pun telah lewat tiga hari teman. Ah, tidak terasa. Semakin bergejolak dan membahana. Situasi dan kondisi di lapangan yang penuh dengan tantangan serta kabar-kabar dari tanah Yogyakarta semakin mewarnai KKN Bintan kali ini. Ah, seperti pelangi dengan indah warnanya. Saya menikmatinya. Saya mensyukurinya.

Rabu-Kamis-Jumat sudah lewat. Seperti Tiga Hari-nya Float, “Lewat sudah, tiga hari ‘tuk selamanya”. KKN Bintan juga sudah lewat tiga hari. Hari pertama lewat. Hari kedua lewat. Hari ketiga juga lewat. Hari pertama sudah kita lalui bersama dengan berbagai perasaan yang berwarna-warni. Ah, tidak usah kita bahas lagi teman. Dua hari berikutnya, kita datang, berkunjung dan silaturahim ke rumah para pejabat RT. Kita sempatkan untuk singgah ke rumahnya Pak Amirudin yang juga ketua RT 01 dan dilanjutkan dengan pesta degan (kelapa muda) yang dipetik langsung dari pohon kelapa yang ada pekarangan rumahnya. Sebelumnya, kita juga menikmati keindahan Pantai Trikora I bersama teman-teman sub unit Teluk Bakau. Kita juga merasakan shalat Jumat pertama di Kawal. Kita juga singgah ke rumahnya Pak Tamin, ketua RT 03 yang sedang ada hajatan besar di rumahnya, mereka menyebutnya khataman. Ah, ramai sekali teman rumah beliau kala kita singgah kesana. Rumah panggung beratapkan daun kelapa. Budak-budak (anak kecil) yang asik nonton bareng film Pendekar Bujang Lapuk. Dapur dadakan yang ramai ibu-ibu memasak. Hei, suasana desa yang penuh kekeluargaan yang sering dikisahkan di buku-buku pelajaran pendidikan moral dan kewarganegaraan langsung terbangun seketika. Ah, sungguh indah teman.

Saya tidak sangka 3x24 jam itu ternyata telah lewat dan berlalu begitu cepat. Berhembus seperti angin dan mengalir lancar seperti aliran sungai. Ah, cukuplah untuk beradaptasi. Setelahnya kita harus berubah kalau tidak ingin tergilas oleh perubahan itu sendiri. Tiga hari ini cukuplah untuk mengenal karakter tujuh orang teman-teman KKN saya. Bayu, si kormasit atau kita memanggilnya Pak RT yang ternyata bijak tapi ndeso (kalau habis makan suka tidur), Icak yang penuh toleransi dan lucu sangat, Fery yang penuh keberuntungan, Mastori yang suka menulis dan difoto, Sari yang peduli kepada sesama, Erni yang pandai mengurus administrasi keuangan dan bersosialisasi dan Neni si juru bicara dari Kawal.

Ah, lewat sudah tiga hari ‘tuk selamanya. Setelahnya kita harus berlari lebih cepat. Bagaimana dengan Yogyakarta teman? Kita mengawalinya dari PJS saya di KAB. Saya hanya bisa berbalas pesan dengan si Tika.

As. Kemaren siapa jadinya yang mewakili KAB di rapat KSF goes to school? Hanami kayaknya kan gak dateng tuh? Bls segra. Af1 wa Jzk. Ws.

Panji

Wlkmslm. Sabar.. kan dah ku blg skrg msh d Malang. Jd g bs dtg. Trus telpn org2 akhrny Ulia yg dtg tp g smp slese. Gitu..

Tika KAB’04

As. Oke! Tetap semangat yah mbak! Semoga sukses deh KAB dan penelitiannya! Keep Fight and Spirit. Ws

Panji

InsyaAllah.. tetep semangat ko. Amin.. ditegur aja klo ntar lupa ngasih report k kamu. Biar inget. Tkt g amanah. Yup. Mksh. Wslmkm.

Tika KAB’04

Teman saya yang lain ternyata juga mengirimkan satu masalah special untuk KAB. Ah, rancak bana teman. Pesan dari Yogyakarta itu masih bisa sampai hingga Pulau Bintan. Hebat benar teman.

Asslm.. nji, KAB btuh stempel bwt proposal PMB. Solusi? Mb Tik lg d Malang, trus pnitia ada bbrp yg pulang.

Tidak pakai lama. Tidak pakai pikir panjang. Pesan itu langsung saya forward ke Tika. Dan langsung dibalasnya.

insyaAllah ji. Ntar lg ya. Lg ngadep pembmbing u/ olah data ni. Afwan.

Tika KAB’04

Teman saya yang KKN di Kalasan, juga berbalas pesan dengan saya. Rezki namanya, anak Teknik Mesin UGM angkatan 2004. Teman yang aneh tapi nyata.

Asw. Bos, p kbr? Smalem liqo g? Btw, Andrie baru j maen dr t4 KKN gw nich.

As. Alhamdlh gw mash hidup. Yah, smbl nunggu surat transfer dari bos, gw tarbiyah dzatiyah dulu. Wah, ada Andri, berarti kalian rapat forum perdana ya?

Alhmdllh klo msh hidup.. gw kira dah ke laut aje.. wah, klo masalah forum gw kaga tahu dah.. tu kan urusn lo dkk nantiny.

As. Hmm, sel